Welcome, visitor! [ Register | Loginrss

Cialis onlinexanax onlineadderall onlineLevitraCialis

 

Media Pembelajaran vs Alat Bantu Pembelajaran

  • Listed: 20 November 2008 9:19 am
  • Expires: This ad has expired

Apakah ada bedanya …..
kayaknya ini salah satu lirik laginya Ebiet G Ade deh!

Apakah ada bedanya antara media pembelajaran (instructional media) dengan alat bantu pembelajaran (instructional aids)? Serupa tapi tak sama. Tapi, bagi Anda yang menekuni bidang ini, sebaiknya dapatlah membedakannya. Betul ga?

Katakanlah, ada beberapa media sebagai berikut: overhead projector, multimedia pembelajaran (CD-Pembelajaran), LCD projector, poster, video, audio-cassette. Manakah diantara media tersebut di atas yang termasuk dalam kategori media pembelajaran? Atau sebaliknya, manakah yang termasuk dalam kategori alat bantu pembelajaran? ha ha ha ha, bingung, kan? :)

Sebenarnya, kuncinya sederhana. Kapan suatu media hanya dikatakan sebagai alat bantu pembelajaran? Suatu media dikatakan sebagai alat bantu pembelajaran ketika pesan yang ingin disampaikan dari media tersebut tidak langsung ada dalam media itu, melainkan memerlukan penjelasan lebih jauh oleh narasumber (penyaji). Artinya, pesan yang ingin disampaikan masih ada sepenuhnya pada diri si penyaji. Contoh, slide presentasi yang biasa disajikan dengan alat yang bernama LCD projector, secara konsep masih dalam kategori alat bantu pembelajaran. Kenapa? Karena inti dari pesan yang ingin disampaikan masih memerlukan penjelasan dari orang yang akan menyajikan (presenter). Pesan yang ada dalam slide presentasi, masih bersipat point-point informasi (pointer) saja. Keberhasilan tujuan komunikasi yang ingin disampaikan melalui media tersebut masih sangat tergantung pada penyajinya. Itulah sebabnya, kita katakan sebagai alat bantu pembelajaran. Begitu pula halnya dengan OHP, Poster, Peta, dan lain-lain.

Bagaimana dengan buku, CD-pembelajaran, atau video pembelajaran, misalnya? Pesan yang dikandung oleh media tersebut untuk dikomunikasikan kepada penggunanya, sehingga pengguna tersebut dapat memahaminya dengan baik telah ada langsung (embeded) dalam media itu. Sehingga, walaupun tanpa penjelasan lebih jauh dari si pembuat (katakanlah penulis untuk buku), pengguna relatif akan memahaminya dengan baik. Itulah sebabnya, kita katakan sebagai media pembelajaran. Begitu pula dengan audio-cassette, dan lain-lainnya.

Penjelasan di atas menunjukkan kepada kita bahwa, by concept, media itu terbagi dalam dua kategori. Pertama media dapat dikatakan sebagai alat bantu pembelajaran dan kedua sebagai media pembelajaran. Ketika media berperan sebagai alat bantu pembelajaran, efektifitasnya sangat tergantung dari penyaji (narasumber) yang mengkomunikasikan pesan yang ada didalamnya. Sementara efektifitas media pembelajaran akan sangat tergantung pada ketepatan pemilihan media yang sesuai dengan tujuan serta karakteristik pengguna, dan ketepatan penggunaanny.

Tapi, walau demikian, apa yang saya sampaikan di atas adalah konsep klasik. Banyak pakar lain yang tidak mempermasalahkan hal diatas. Artinya, semuanya adalah media pembelajaran. Sebagaimana kata mbah Robert Gagne, yang mengatakan bahwa, “media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran.” Karena ada juga pakar yang megelompokkan media pembelajaran kedalam kategori display (seperti papan tulis), media audio (mp3, akset audio), media audio-vsiual (video, film gerak), media visual yang diproyeksikan (OHP, slide presentasi, dll), media yang didistribusikan secara elektronik (radio, televisi, dll), media berbasis komputer (CD interaktif) dan lain-lain.
Begitu kawan. Tulisan ini ditujukan untuk ade-ade mahasiswa yang baru masuk ke padepokan teknologi pendidikan, di lembah Daksinapati, Universitas Negeri Jakarta.

SELAMAT BERDJOEANG KAWAN…. :)

Related posts:

  1. Media Pembelajaran di dalam Desain Pembelajaran Media Pembelajaran Didalam mempelajari desain pembelajaran, terdapat pula media pembelajaran....
  2. “Blog” sebagai Media Pembelajaran Menurut Fryer dalam makalah Strategy for effective Elementary Technology Integration...
  3. Tips Skripsi: Pengembangan dan Evaluasi Media Dear pembaca… mohon maaf sudah lama tidak posting artikel...
  4. Integrasi ICT dalam Proses Pembelajaran “Learning to Use ICT” or “Using ICT to Learn” ?!?!...
  5. Sudahkah kamu memilih warna yang tepat untuk media pembelajaranmu? (1) Pernahkah kamu mengalami ‘shock’ visual saat membaca sesuatu, baik bahan...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

4 Comments

  • dani 发布于   2008.12.06 02:18

    saya setuju penyebutan media pembelajaran scr umum saja..asal tdk membingungkan, pak.. :)
    tp saya masih bingung dg kata ‘pembelajaran’ dan ‘pemelajaran’
    mohon pendapatnya..makasi

    • Uwes Anis Chaeruman 发布于   2008.12.06 04:16

      mas dani justreu ini yang membingungkan. Katanya, siswa dalam bahasa Indonesia dipadankan dengan kata pemelajar menurut pusat bahasa. Istilah pemelajaran atau pembelajarankah yang tepat? ini perlu dikalrifikasi lagi ke Pusat Bahasa. Tapi, saya secara pribadi menafsirkan ‘instructional’ dalam Bahasa Inggris menjadi ‘pembelajaran dalam bahasa Indonesia…. kalo memang ada beberpa perubahan padanan kata oleh Pusat Bahasa, sebaiknya Pusat Bahasa mensosialisasikannya kepada kita, bukan begitu?

      • maydina 发布于   2009.05.03 01:01

        so pak..blog bisa disebut sebagi media pembelajran kan?

        • Hendrick 发布于   2009.12.02 07:40

          Terima kasih banyak atas tulisan,blog dan semacamnya. AMAT SANGAT MEMBANTU. Btw pak, saya mau sedikit bertanya. Skripsi saya berjudul “PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM BENTUK BUKU PAKET DIGITAL UNTUK MATA PELAJARAN SENI BUDAYA KELAS VIII DI SMPN 1 MALANG”. Yang saya tanyakan :
          1. buku digital disini merupakan buka paket yang dirancang sedemikian rupa dengan atraktif dan interaktivitas di dalamnya, dengan berlandaskan 3 buku paket kurikulum KTSP yang beredar (terbitan erlangga, ganecha dan yudhistira). pertanyaan saya (heheheheh nanya lagi nanya lagi …) dalam batasan apa saya harus merangkum 3 buku itu dalam satu kesatuan buku?? apa sebaiknya saya merujuk satu buku dan 2 buku sebagai pembanding atau mungkin pelengkapnya??? takutnya kalo skripsi ini jadi malah membuat buku baru??? dengan segala kerumitan dan konsukeunsi didalamnya.. lagian kan skripsi kan, kita berlatih meneliti/mengembangkan/merancang …. jadi gak harus perfect se perfect-perfectnya seperti orang menulis buku heheheeh. mohon sarannya [^_^]v

          • (Required)
          • (Required, will not be published)

          Jika Anda punya pesan atau komentar untuk tulisan ini, silakan isi form dibawah ini!.

          Sekilas Info tentang Penulis

          Arsip