Lulusan TP jadi Guru TIK, What do You Think?
- Listed: 9 November 2009 4:46 am
- Expires: This ad has expired
Suatu ketika dalam facebook (http://www.facebook.com/inbox/?ref=mb#/profile.php?id=631917261&v=feed&story_fbid=2048134849) sya mengungakpakn status seperti judul di atas. Dengan harapan memperoleh masukan dan pendapat dari khalayak, khususnya para TPers. Sementara ini saya hanya ingin masukkan apa adanya, belum berani menyimpulkan. Masih menunggu penapat dari para TPers lainnya. Berikut adalah komentar mereka:
Resti Budianti:
sah-sah aja bukannya k’ uwes?yang jadi guru TK juga ada khan?![]()
Orok Menes
@ Resti: masalahnya, waktu sy ngomong di seminar nasional Univ Pendidikan Ganesha Bali, peserta mengusulkan dalam akta mengajar yg diperoleh lulusan tertulis eksplisti dapat mengajar TIK di sekolah. Kurang lebih kalimatnya begitu. Bagaimana menurut Anda?
Irfan Abraham
I think No problem……
Orok Menes:
@Irfan: kalo lulus terus jadi guru TIK, sy setuju, no problem. Namanya juga nasib. Tapi kalo dalam akta mengajar yg diperoleh mereka setelah lulus tertulis demikian, maka seolah-olah mengatakan bahwa TP hanya meluluskan calon guru TIK. Nah loh? Betapa sempit, ruang lingkup TP. Kalo begitu outputnya, ganti aja nama jurusannya menjadi Pendidikan Guru TIK, bukan Teknologi Pendidikan lagi ….
Nissa Madani:
Mestinya lulusan TP tuh bisa jadi apa aja yang bergerak di dunia pendidikan… kan pendidikan selalu membutuhkan sentuhan teknologi di dalamnya…
Orok Menes:
@nissa: nah kalo pendapat ini, saya SETUJU! gimana menurut yang lain?
Mella Arsyianti:
k uwes kl kerja murni lulusan TP mah bs d itung…kebanyakan justru jadi guru2 juga tuh…termasuk sy
Phillip Rekdale:
Saya kira ide “Lulusan Teknologi Pendidikan jadi Guru TIK” adalah Brilliant – Hebat! Sangat Setuju!
Sejak tahun 1998 salah satu masalah besar (buat saya) di tingkat sekolah adalah ‘tidak ada tenaga khusus untuk membantu guru-guru dengan cara menggunakan teknologi pendidikan’. Kalau saya melatih staf dari TU mereka sering dipindahkan ke bagian dinas yang lain. Dan dengan keadaan kekurangan guru saja bagaimana saya dapat sebutkan ini sebagai isu penting, walapun penting sekali sebetulnya?
Ayo!
Leniawati Acun:
andai semua orang bekerja sesuai kapasitasnya…
Phillip Rekdale
Naaaa… kalau Guru TIK+ ini dapat membantu guru mengimplementasikan PAKEM di sekolah… sempurna!
Orok Menes:
Sebenarnya, kalo konsep learning resurce center dilaksanakan, maka peran lulusan tp sebagai pengelola pusat sumber belajar itu penting. bisa menjadi mitra guru dalam menyiapkan, mendesain pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan
Phillip Rekdale:
Sebenarnya kebanyakan Perpustakaan Sekolah di sekolah umum hanya sebagai “Gudang Buku”. Ini mungkin kesempatan untuk mengatasi beberapa macam hal.
http://pendidikan.net/perpustakaan.html
Orok Menes
salah satu wilayah kerja teknolog pembelajaran adalah disitu, pengelolaan pusat sumber belajar ….. memberdayakan perpustakaan tidak hanya sekedar gudang buku, tapi sebagai pusat konsultasi pembelajaran bagi guru, pusat research untuk peningkatan mutu pembelajaran sekolah dan lain-lain…
Aca Khaidir:
bener banget pak dosen,aku jd kebuka pikiran tentang TP lg nih,menurtku,mungkn klo dituils atw diberi keternagn skill apa yg dpt diterapkan nantinya setelah lulus TP,itu dpt membantu mahasiiswa memperjelas ruang lingkup TP walaupun tdk hanya TIK,krn TP sendiri menngunakan kata teknologi yg orng di luar TP kebanyakn beranggapan bahwa orng TP selalu dan hanya berhubungan dngn perangkat keras(hardware)
Aristo Rahadi:
Maaf, Aku kok kurang setuju kalo, by design, lulusan TP sengaja dirancang jadi guru TIK. Kalo ada lulusan TP yang memang kebetulan menguasai materi pelajaran TIK, bagus-bagus saja, kalo mau ngajar TIK. Lulusan prodi lain tentu juga boleh-boleh saja. Apalagi kalo alasannya krn darurat, sementara belum ada yang lain, ngisi kekosongan, daripada gak kerja, itu soal lain.
Kalo faktanya sekolah membutuhkan guru TIK, lebih baik dibuka prodi baru : Pend TIK di Fak Keguruan. Kurikulumnya ya ilmu TIK plus ilmu keguruan yang proporsinya seperti prodi prodi lain di Fak Keguruan. Ini tanpa harus menghilangkan prodi TP yang telah ada. Jika prodi TP mau bermetamorpose jadi pencetak guru TIK, lalu siapa yang seharusnya menekuni secara khusus kajian tentang belajar dan pembelajaran di PT?
Prodi Pend TIK tentu saja akan lebih banyak membekali lulusannya tentang ilmu TIK ditambah ilmu TP “sekedarnya”, seperti prodi2 lain di fak keguruan.
Menurutku, lulusan TP seharusnya berkompeten mewarnai seluruh proses pembelajaran pada suatu lembaga penyelenggara pembelajaran, untuk semua matapelajaran, bukan hanya matpel TIK saja.
Sekali lagi, kalo alasannya untuk mengisi kebutuhan riil, atau daripada gak jelas bidang kerjanya, itu soal lain. Saya tidak memandang dari aspek relevansi lulusan dan kebutuhan. Intinya, prodi Pend TIK bukan substitusi prodi TP. Keduanya beda arah. Kalo suatu saat nanti kebutuhan guru TIK di sekolah sudah bisa terpenuhi, maka keahlian khuisus bidang TP tetap diperlukan di sekolah (juga lembaga penyelenggra pembelajaran lain). Kalo saat ini nampaknya lulusan TP belum dibutuhkan pasar, itu hanya soal waktu saja. Mungkin kebutuhannya belum dianggap prioritas. Atau, kita belum berhasil mensosialisasikan konsep TP, atau kita belum pintar menjual diri. Atau, kita perlu instropeksi, apakah para alumni TP memang telah bener2 menunjukkan kapabilitas riil sesuai dengan kompetnensi yang seharusnya dimiliki oleh seorang lulusan TP? Maaf gemes….
Phillip Rekdale:
@Aristo: Re: “Menurutku, lulusan TP seharusnya berkompeten mewarnai seluruh proses pembelajaran pada suatu lembaga penyelenggara pembelajaran, untuk semua matapelajaran, bukan hanya matpel TIK saja”
Sangat setuju pak, itu sebabnya ide-nya hebat.
Dalam sistem kita sekarang tidak ada kesempatan untuk memasukkan ilmu teknologi pendidikan ke lapangan, percaya, saya sudah lama coba. Melatih orang tertentu gagal – dipindahkan, seminar, penataran, workshop juga gagal karena biasanya tidak mencerminkan kenyataan di lapangan (maupun kebudayaan D4).
Sesuatu yang mengagetkan saya pada tahun 1999 waktu saya membantu meneliti isu-isu terkait “teacher mismatch” (ketiidakcocokan guru) yaitu banyak guru yang terpaksa memilih mata pelajaran lain karena kurikulum 1984 (SMU) diganti 1994 yang tidak perlu guru keterampilan adalah guru yang memilih mata pelajarannya karena tertarik sering lebih baik daripada yang pendidikannya khusus mata pelajaran itu. Kurikulum 1994 tidak hanya merugikan 70% siswa di SMA tetapi juga membuat banyak masalah yang lain termasuk teacher mismatch. Tetapi kalau kita membuka mata kita juga dapat belajar dari pengalaman buruk begini.
Terus terang yang paling penting untuk guru yang baik (menurut saya) adalah pengertian proses pendidikan, ilmu dalam mata pelajaran yang mereka ingin mengajarkan, tetapi “yang paling penting enthusiasme”.
Kalau ada sesuatu yang saya yakin mengenai sifat TPers di Indonesia (pada umum), mereka sangat enthusiastic terhadap TIK, kadang-kadang terlalu enthusiastic
“Ilmu Teknologi Pendidikan masih di utamakan”, tetapi untuk mereka yang ingin menjadi Guru TIK mungkin mereka perlu tambahan beberapa mata kuliah (seperti waktu saya ambil double major dulu – Teaching dan HRD).
Jadi saya sangat percaya bahwa ide ini dapat berhasil.
Tetapi tantangan utama, seperti biasa pasti birokrasi
Maksudnya: “kebudayaan D4″ – Datang, Duduk, Dengar, Duit – Apa paradigmanya masih ada?
Re: “pada tahun 1999 waktu saya membantu meneliti isu-isu terkait “teacher mismatch”"… Read More
Depdiknas Senior Secondary Education Project 1998-2000 (SSEP)
Re: “yang memilih mata pelajarannya karena tertarik sering lebih baik daripada yang pendidikannya khusus mata pelajaran itu”
Kelihatannya guru yang sudah matang dan berpengalaman di lapangan lebih mampu memilih mata pelajaran yang cocok daripada yang masih undergraduate.
Re: “Kurikulum 1994 tidak hanya merugikan 70% siswa di SMA”
Ref: “Pemerintah Bantu SMA Jadi SMK (Terbalik?)”
http://jurnal.pendidikan.net/jurnal2.html#akhirnya
(Ada beberapa item maupun reference di Jurnal Pendidikan.Net)
Re: “kadang-kadang terlalu enthusiastic”
Kadang-kadang TPers kelihatannya lupa dasarnya ilmu teknologi pendidikan dan anggap TIK adalah solusi untuk semua isu pendidikan.
Aristo Rahadi:
@ Pak Philllip:
“Dalam sistem kita sekarang tidak ada kesempatan untuk memasukkan ilmu teknologi pendidikan ke lapangan, percaya, saya sudah lama coba…”.
Saya sangat percaya, bahkan saya mengalaminya. Tp dalam hal ini saya tidak sedang melihat relevansi TPers dengan lapangan kerja. Saya cuma tidak sreg jika karena lulusan TP gak laku di dunia … Read Morekerja, lantas Prodi TP dirubahpaksa jadi pencetak guru TIK. Saya lebih bangga kalo para ahli TP bisa mengembangkan prodi baru penghasil guru TP, sementara prodi TP yang ada tetep dipertahankan sesuai konsepnya. Bukankah salah satu kompetesi TPers adalah mengembangkan suatu sistem pembelajaran untuk menghasilkan kompetensi tertentu?
Bahwa lulusan TP perlu menguasai TIK , ya, saya setuju. Bagi seorang TPers, TIK seharusnya dipandang sebagai salah satu sarana untuk membantu memecahkan masalah belajar dan pembelajaran. Lulusan TP seharusnya mampu mendayagunakan TIK untuk meningkatkan proses dan hasil pebelajaran (sekali lagi untuk semua bidang pelajaran). Kompetensi lain yang perlu dimiliki TPers, tentu saja, merancang dan mengembangkan strategi pembelajaran. Bahkan ( menurut saya) pengusaan strategi pembelajaran jauh lebih penting daripada pengusaan sarana belajar , termasuk TIK. Dalam konteks ini, bagi alumni TP, kemampuan mendayagunakan TIK untuk pembelajaran, jauh lbh penting daripada kemampuan mengajarkan matpel TIK. Bahwa, kenyataannya saat ini yang dibutuhkan di lapangan adalah tenaga yang bisa mengajarkan TIK, memang perlu dijawab dengan cara lain, bukan merubahpaksan prodi TP yang telah ada. Pemberian Diklat tambahan tentang TIK terhadap guru non TIK untuk menjadi guru TIK, hanya saya setujui untuk kepentingan sementara dan darurat.
Phillip Rekdale:
@ Pak Aristo: Re: “Tp dalam hal ini saya tidak sedang melihat relevansi”
Tidak apa-apa ini hanya masalah pengalaman. Saya sudah berkerja di bagian TP (Audio-Visual Aids) di sekolah maupun Technical Manager TP (Education Technology) di universitas yang mempunyai 5 kampus dan sudah menyaksikan pengaruh positif yang dicapaikan oleh bantuan guru/dosen lansung di sekolah/kampus.
Di kampus yang saya sering kunjungi dekat rumah saya mereka hanya mempunyai bagian TIK, kasihan
Bukan masalah lapangan kerja TPers, “isunya meningkatkan mutu pendidikan di negara kita”.
Kalau cara masuk ke lapangan adalah sebagai guru TIK menurut saya baik, apa lagi kalau saya ditawarkan 2 major saya pasti mau, menurut saya tidak ada “ilmu yang kelebihan”.
Re: “Bukankah salah satu kompetesi TPers adalah mengembangkan suatu sistem pembelajaran untuk menghasilkan kompetensi tertentu? Bahwa lulusan TP perlu menguasai TIK , ya, saya setuju. Bagi seorang TPers, TIK seharusnya dipandang sebagai salah satu sarana untuk membantu memecahkan masalah belajar dan pembelajaran”
Re: “TIK seharusnya dipandang” – (Hanya Kalau Cocok)
Naaa… menurut saya ini salah persepsi, tidak ada “seharusnya”, TIK hayna salah satu alat yang mungkin dapat membantu. Banyak sekolah menjalankan pembelajaran yang sangat bermutu tanpa menggunakan TIK sama sekali (Class-based). Hampir seluruh dunia sebetulnya. Semua masalah dapat ‘memecahkan’ tanpa TIK kecuali kalau mengajar TIK.
Misalnya saya sudah belajar secara Distance & External (Off-Campus) cukup lama (14 tahun) dengan sistem pos. Apaklah saya lebih pintar sekarang kalau sudah menggunakan e-Learning, saya kira tidak (padahal mungkin sudah putus asa karena frustrasinya).
Re: ” memang perlu dijawab dengan cara lain”
Ini memang cara lain. Hanya mereka yang ingin sebagai Guru TIK yang ikut, yang lain tidak dipengaruhi. Ini namanya kreativitas dan ‘memecahkan’ problem yang win-win, yang jarang ada di dunia ini.
Dulu waktu TP adalah profesi baru dan saya ditanya apa tugasnya – jawaban saya selalu “survivor”. Karena setiap hari kita menghadapi banyak tantangan baru, dan terus terang saya bangga bahwa saya dapat survive setiap hari (selain membuat bahan waktu itu kami juga memperbaiki semua kerusakan peralatan elektronik).
Salam Teknologi Pendidikan
Maydina Zakiah Siagian:
wah..seru nih baca komen2nya…brarti intinya lulusan TP harus menguasai TIK gitu? tapi gak perlu dalam2 amat kan? bukankah we are ‘learning with technology’ bukan ‘learning about technology’…kalau menurut pengamatan saya sekilas..justru yang langka di negeri ini adalah lulusan TP yang bisa menjadi ‘desainer pembelajaran’ atau ‘pengembang … Read Morekurikulum’ …prediksi saya sih beberapa tahun kedepan profesi ini akan booming alias dicari-cari orang sebab merupakan barang langka..di dunia kreatif aja orang kreatif banyak..tapi sutradara pembelajaran kreatif itu sendiri masih sedikit…dan itu yang kini dibutuhkan lembaga2 pendidikan kreatif..yaitu sutradara pembelajarannya…intinya TP membuat learning menjadi ‘FUN’ bukan…bukan masalah harus ngerti A-Z tentang teknologi…sayang kalo lulusan TP hanya jadi pengajar tutorial TIK tanpa melihat aspek ‘FUN’ learning-nya…ntar banyak yang menyusul muhammad Izza Ahsin karena merasa sekolah sebagai institusi yang mengekang seperti dalam bukunya ‘dunia tanpa sekolah’…mudah2an sih tidak..I think menjadi desainer pembelajaran/pengembang kurikulum adalah hal yang kereen..seperti Pak Arief Rachman..
Phillip Rekdale:
@Maydina Terima kasih.
Re: “prediksi saya sih beberapa tahun kedepan profesi ini akan booming alias dicari-cari orang sebab merupakan barang langka..di dunia kreatif aja orang kreatif banyak”
Saya sangat setuju mengenai kebutuhan kreativitas – benar!
Tetapi kreativitas adalah satu hal dan learning adalah hal lain.Re: “‘desainer pembelajaran” – Untuk siapa dulu? Kalau untuk bisnis export saya setuju. Pasarnya besar di korporate sektor di luar negeri, tetapi untuk anak-anak kita membaca: http://TeknologiPendidikan.Com dulu.
Perlu ingat kita belum menemui kebutuhan-kebutuhan dasar untuk sekolah-sekolah kita yang benar adalah sebabnya pendidikan di luar negeri lebih baik – bukan ‘learning with technology’.
Re: “hanya jadi pengajar” – Errrrrr…….
Dari mana anda sendiri belajar…. mereka yang masih mengimplementasikan pendidikan yang paling bermutu di seluruh dunia, bukan ‘desainer pembelajaran’ lewat TIK.Re: “intinya lulusan TP harus menguasai TIK”
Zaman sekarang di lapangan kerja memang “Menguasa TIK” (dan bahasa Inggris) termasuk kebutuhan-kebutuhan utama untuk semua orang.
Phillip Rekdale
@Maydina P.S. Re: “Pak Arief Rachman”
Sebaiknya kita menunggu saran dari beliau terhadap isu-isu ini dalam kontext prioritas mutu pendidikan sekolah ya?
Sambil menunggu, sebaiknya membaca:
http://pendidikan.net/profilpendidikan.html#perhatian
Re: “‘FUN’ learning”
Coba: http://pendidikan.net/pakem.html
Terjangkau dan Sangat Efektif
Mungkin sata isu lagi yang perlu ditambah di sini adalah:
Di Facebook saya beberapa minggu yang lalu kita membahas idenya menempatkan beberapa orang TP di setiap propinsi (kabupaten kalau bisa) yang kerjasama Dinas Pendidikan khusus untuk membantu guru menggunakan teknologi tepat guna di lapangan.
Konsep ini memang dapat dijalankan baik di “ideal world” di mana sinergi antara Depdiknas, Dinas Pendidikan dan Masyarakat adalah efektif dan “ideal”. Tetapi kenyataan kelihatannya tidak begini, dan sering kelakuannya kelihatannya lebih mengarah ke kepentingan sendiri, daripada kepentingan pendidikan. Misalnya “dinas pendidikan telah menjadi institusi paling korup dan menjadi isntitusi penyumbang koruptor pendidikan terbesar dibanding dengan institusi lainnya. Hal ini dapat dipahami mengingat adanya desentralisasi pendidikan yang disertai rendahnya kontrol atas dinas pendidikan dan jajarannya.” Ref: ICW: Analisis 5 Tahun Pemberantasan Korupsi Pendidikan (2004-2009).
… Read More
Katanya anggaran pendidikan naik, kan? Mengapa “Jumlah ruang kelas (SD dan SMP) rusak berat juga meningkat, dari 640,660 ruang kelas (2000-2004 meningkat 15,5 persen menjadi 739,741 (2004-2008).” Ref: ICW: Analisis 5 Tahun Pemberantasan Korupsi Pendidikan (2004-2009)
http://beritapendidikan.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=12&artid=1883
Kita harus tanya, apakah mereka serius?
Kelihatannya kalau kita mencari solusi untuk meningkatakan efektivitas dan peran TP sebaiknya kita memilih yang dapat “link and match antara kebutuhan lapangan pekerjaan dengan SDM yang disiapkan melalui institusi pendidikan”.
TPers masuk sekolah sebagai Guru TIK adalah salah satu pilihan.
Diskusi ini cukup seru, bukan? Sekali lagi saya tidak ingin tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Saya menunggu komentar dari yang lain. Perlu digarisbawahi disini, memang ada perkembangan alur diskusi, dari semula mempermasalahkan lapangan kerja TPers, diaman salah satunya adalah guru TIK (secara personal saya sangat tidak “SREG”, walapun sah-sah saja untuk kebutuhan pragmatis di lapangan), tapi juga berkembang kearah pembelajaran di kelas yang bermutu serta peran TP didalamnya. silakan berkomentar atas dua issu tersebut…
SELAMAT EBRDJOEANG!
Related posts:
- Jangan Sampai Sekolah menjadi Pusat “BIMBEL” Hari Sabtu, tanggal 28 Februari kemarin, saya berkesempatan kembali berbicara...
- desain pembelajaran ntuh,,,, menurut saya desain pembelajaran adalah merancang suatu sistem pembelajaran agar...
- Model Pendidikan dengan Sistem Belajar Mandiri Salah satu permasalahan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah masih...
- Desain pembelajaran adalah…. Menurut saya desain pembelajaran adalah suatu rancangan untuk pembelajaran disekolah...
- Organisasi belajar kok jadi makin rumit ya…Lihat pada konsep Benchmarking ! Bicara organisasi belajar sepertinya mudah sekali… asalkan ada beberapa hal...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
39 total views, 1 so far today
9 Comments
Sekilas Info tentang Penulis
- Ditulis oleh: Uwes A. Chaeruman
- telah menjadi Anggota sejak: 28 August 2007
Komentar Terkini
- Uwes A. Chaeruman on definisi sendiri tentang organisasi belajar dan kesimpulan sendiri rasional yang lematarbelakangi OB
- efendi on Mau kemana setelah lulus dari jurusan Teknologi Pendidikan?…
- efendi on Jangan Sampai Sekolah menjadi Pusat “BIMBEL”
- maydina on Facebook, lebih dari sekedar mesin pertemanan
- dida on Membumikan Teknologi pendidikan kepada masyarakat…mungkinkah?

wahh hebadd,,diskusinyaa udahh panjang..
kloo menurutt sayaa lulusan TP jadi guru TIK seech sah2 aj pak,,
tpp klo di akta mengajar haruss ad tulisan kyaa gtu y g stuju,,
khann TP itu bukan cuma skedar jd ahli komputer ato guru TIK,,
dan tidak smua lulusan UNJ harus jadi guru..
tp gmn kita bisa aplikasikan ap yg kita pelajari dalam kerjaan kita,,
Tochh Tp itu sendiri memiliki pengertiann yg luas..
dan didalam tercakup banyak hal ,
Ok, Great! Gimana menurut yang laennya …?
boleh2 saja pak… kan kata bapak yang penring HALAL
DI tik, kita juga mengaplikasikan sedikit ilmu yang TP, no problem sehhh…
tapi memang sebaiknya tidak seperti itu, harusnya kita yang mebuat orng menjadi guru, bukan menjadi guru (itu kata pak robin),
[...] PDRTJS_settings_413004_post_673 = { "id" : "413004", "unique_id" : "wp-post-673", "title" : "Guru+TIK%2C+PNS%2C…", "item_id" : "_post_673", "permalink" : "http%3A%2F%2Ftpundiksha.wordpress.com%2F2009%2F12%2F01%2Fguru-tik-pns%2F" } Simak diskusi online TPer di sini [...]
Pak wess yang saya hormati, kita pernah ktemu di seminar TP Undiksha November 2009. Saya salah satu alumni TP undiksha (dulu IKIP Negeri Singaraja). saya hendak bercerita dulu dengan pak wess. Ketika kuliah di jur TP, tahun 2000 saya bertanya kepada dosen TP pengasuh saya dalam sebuah diskusi. “pak TP arahnya kemana?? secara real lapangan kerjanya dimana??” nah yang bikin saya ga puas, dosen TP sendiri tidak bisa menjelaskan. Beberapa tahun kemudian Dosen-dosen TP yang notabene kebanyakan Doktor dan Profesor menyampaikan (lebih tepat memberi mimpi) bahwa TP di cetak untuk menjadi Guru TIK buktinya apa?? beberapa angkatan TP diberi kosentrasi mengajar TIK (dalam bentuk kosentrasi) jadi ketika tamat, lulusan TP membawa 3 kertas berharga (ijasah S.Pd, akta IV dan sertifikat kosentrasi TIK). Semenjak itu pelamar TP membludak, karena prospek mengajar TIK di sekolah bukan karena ilmu ke Tp annya. Setelah tamat, salahkah para lulusan ini menuntut apa yang dosen-dosen TP undiksha janjikan sebelumnya??? sementara mapel TIK akan diisi oleh jur lain. itu cerita panjangnya pak wess. Perlu pak wess ketahui, orang singaraja (bali) itu sangat terbuka jadi kita menghujat orang (dosen) seperti pada seminar itu hal yang sudah biasa. itu cerita TP Undiksha pak, Tolong carikan solusi yang terbaik”"” terimakasih
Pak,menurut saya lulusan TP jadi guru TIK sih emang bisa dan juga nyambung,tapi apa salahnya kita mencoba untk menjadi yang lain karena profesi TP itu kan sangat luas,dan menjadi guru TIk hanya mengambil lahan orang lain,heheh
masih banyak profesi TP yang menarik dan menggiurkan,heheh
Sangat setuju..ini prestasi…di Bandung juga demikian , mohon kepada Dosen Tp di seluruh Indonesia, kami di Bandung kelihatannya belum jelas payung akademik, sebab ada Pendilkom, di kami ada konsentrasi guru TIK dan sekarang masih berjalan…smoga semua pihak bisa bijaksan dalam menanggapi keilmuan ini….tujuannya sama mencerdaskan dan melakukan inovasi dalam pemecahan belajar generasi yang akan datang….dan alhamdulillah di Dinas Pendidikan Kota Bandng ada sekitar 16-17 orang yang kemarin lulus tes CPNSD Kota Bandung yaitu jadi guru TIK, ada yang di SMA dan di SMK, kami dari tim dosen juga akan coba lebih meningkatkan keilmuannya gua mendampingi lulusan TP.
salam dari Bandung
kalau mau pasti BISA!!!semangat teman-teman TP,
Emang TP itu menguasai bahan ajar dan trik mengajar. jadi cocok untuk jadi pengajar. kalau jurusan TIK cocoknya jadi teknisi disekolah2